PAGI ini Gagah kembali menagih janji kepadaku.
“Ayah perbaiki sepedaku dong,” katanya sebelum berangkat ke sekolah.
“Apanya lagi yang rusak,” tanyaku sekenanya.
“Rantainya seret, jadi kalau digowes (dikayuh) berat,” ujarnya.
“Iya deh, nanti pas kamu pulang sekolah Ayah olesi oli biar nggak seret,” sahutku.
Dari
jauh kuperhatikan sepeda Gagah disandarkan di tembok samping rumah.
Tanpa standar, hanya setangnya menjadi tumpuan di tembok. Sepeda dengan
corak berwarna perpaduan merah-hijau-kuning, sudah terlihat agak kusam.
Pijakan
kaki pada pengayuh sebelah kiri sudah patah, hanya meninggalkan besi
tengahnya saja. “Bagaimana dia mengayuh sepedanya,” gumamku, seraya
mendekati sepeda Gagah hadiah dari kakek-neneknya ketika dia masih
berumur 2 tahun.
Kucoba menarik remnya, ternyata begitu keras dan
juga tak berfungsi. Aku jadi ingat sandal jempit Gagah yang bagian
ujungnya ‘habis’ karena digunakan untuk menggantikan fungsi rem. Caranya
sandal itu dijadikan penghambat laju sepeda dengan menggesekan ke
jalan. “Ada aja akalnya,” kataku dalam hati.
Siang hari, Gagah pulang sekolah dan langsung menagih janji.
“Ayah, ayo perbaiki dong,” ujarnya setengah merajuk.
Tanpa
disuruh, dia membalikkan sepedanya sehingga kedua rodanya berada di
atas. Prosedur standar memperbaiki sepeda, agar mudah memeriksa bagian
yang rusak.
Kulihat rantai sepedanya berkarat, sehingga berat ketika diputar. Roda depannya pun seret karena terjerat benang layang-layang.
Lalu,
kuolesi rantai dan roda belakang dengan oli bekas mesin sepeda motor.
Sebisa mungkin melepaskan benang yang melilit di as roda depan.
“Wah masih seret juga nih, Bang,” kataku kepada Gagah. Karena dia anak pertama, maka saya panggil Abang.
“Ganti aja yang baru, Yah,” jawabnya spontan.
“Apanya?” kataku, pura-pura tidak mengerti.
“Sepedanya. Beli di Depok, seperti yang kemarin kita lihat,” ujar Gagah menjelaskan.
Wah
gawat nih kalau sudah begini. Urusannya pasti tidak sederhana, selain
membutuhkan anggaran besar, melobi ibunya pun pasti tidak mudah.
“Uangnya dari mana? Sepada baru ‘kan mahal,” kucoba mencari alasan.
“Berapa harganya, Yah,” tanya Gagah seakan memburu.
“Tujuh ratus ribu, Bang,” tandasku.
Gagah
menatapku dengan mata merawang. Entahlah, mungkin dia membayangkan
besarnya uang Rp700.000. Atau, mungkin dia tidak mengerti, karena selama
ini belum paham menghitung uang dalam jumlah besar.
Biasanya,
kalau diberi uang hanya pecahan Rp100, sisa kembalian belanja ibunya.
Menghitung uang dengan satuan ratusan, Gagah sedikit menguasai. Namun,
jika untuk jajan kue yang harganya Rp500 atau Rp1.000, dia masih minta
bantuan ibunya menunjukkan jumlah uang yang tepat atau pecahan uang
bernilai sama.
Suatu ketika hendak membeli kue di warung seharga
Rp1.000 dan dibawakan uang pecahan Rp2.000. Bukannya pulang gembira,
sebaliknya dia malah menangis dan marah kepada ibunya karena mengira
uang yang diberikan salah dan tidak bisa digunakan.
“Bunda, tukang kue bilang harganya seribu, kok aku dikasih uang ini,” protesnya seraya mengembalikan uang pecahan Rp2.000.
Istriku
hanya tersipu-sipu melihat ekspresi Gagah. Setelah dijelaskan uang yang
diberikan benar dan diantar ke warung oleh ibunya, baru dia percaya.
“Kalau
uangnya dua ribu, dipakai jajan seribu, malah ada kembalinya seribu,”
istriku menjelaskan. Secara sederhana diterangkan Rp1.000 ditambah
Rp1.000 adalah Rp2.000. Begitu seterusnya, seperti penghitungan biasa,
hanya satuannya ribuan.
Sore hari menjelang berangkat kerja, Gagah menghampiriku.
“Ayah, sekalian belikan sepeda baru dong. ‘Kan ayah lewat Depok,” pintanya.
“Uangnya mana? Ayahkan belum punya uang,” kilahku.
“Aku kan punya tabungan,” jawabnya.
“Masa sih?,” tanyaku tidak yakin.
Gagah
pun menunjukkan koin uang recehan pecahan seratus yang disimpan di
dalam kaleng bekas permen. Dihitung jumlahnya ada tujuh buah.
“Ini, aku punya tujuh ratus,” katanya dengan percaya diri.
“Mana cukup,” timpalku, menanggapi dengan enteng.
“Kan Ayah tinggal tambah seribu, jadi pas tujuh ratus ribu,” sahut Gagah dengan yakin.
Sejenak,
saya seperti kehabisan kata-kata. Sedangkan ibunya yang mendengar hanya
tersenyum simpul. Satu sisi, saya terharu melihat keinginan Gagah untuk
memiliki sepeda baru dengan menabung uang recehan sisa belanja ibunya.
Di sisi lain, saya tergelitik, bagaimana uang Rp700 ditambah Rp1.000
seharusnya menjadi Rp1.700, tapi dibenak anakku yang baru berusia 6
tahun menjadi Rp700.000.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar